Konjen RRT Surabaya Mengadakan Kunjungan ke Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Menjelang Imlek

0 8

Konjen RRT Surabaya Mr. Gu Jingqi mengunjungi Perkumpulan Hwie Tiauw Ka pada tgl. 30 Januari, menyampaikan ucapan selamat tahun baru Imlek kepada warga Hakka, semoga semuanya berbadan sehat, diberi keberuntungan, dan kelancaran di segala hal.

Konjen dengan sungguh-sungguh mempelajari sejarah Perkumpulan yang sudah hampir berusia 200 tahun ini, serta mengetahui perkembangan budaya Hakka di Indonesia. Beliau juga meminta sudah warga Hakka tidak melupakan asal usul mereka, tidak melupakan jasa pendahulu yang sudah berjuang dengan susah payah, semoga Perkumpulan ini dijadikan basis pendidikan budaya Tionghoa, supaya generasi muda lebih memahami dan meneruskan budaya Hakka yang luhur ini.

Pukul 11, Konjen Mr. Gu Jingqi bersama Wakil Konjen Mr. Liu Qiang tiba di Perkumpulan Hwie Tiauw Ka, disambut dengan hangat oleh Ketua Kehormatan – Dr. Soewondo, Benny, Ketua – Alie Handojo, Wakil Ketua – Oei Tik Bing, Jayapranata, Wiliani, Sekretaris – Elisa, Bendahara – Hady K., Irawan, dan anggota pengurus yang lain: Meliana, Lilies, Yenny, Handajani, Sokolani, dan lain-lain.

Konjen dengan saksama memperhatikan tablet, couplets, gambar, porcelen, dan prasasti yang mencatat sejarah Perkumpulan, satu per satu dicermati, terutama catatan tahun dan nama-nama yang terpahat di prasasti, dibacanya dengan teliti. Dari sana dapat diketahui bahwa perjuangan para pendahulu yang datang pada awalnya tidaklah mudah, dengan tekad teguh, sambil berusaha mencari kehidupan, mereka juga mengumpulkan tenaga sesama warga Hakka membangun Perkumpulan ini, sehingga telah menghabiskan waktu 43 tahun baru tuntas, sungguh patut dihargai.

Di sisi ruang tengah ada sebuah pompa air kuno, dengan penuh semangat Mr. Gu bersama Bp. Alie selaku ketua mencoba untuk memompa air tanah menggunakan peralatan yang sangat tradisional tersebut. Ketika air yang bersih itu menyembur keluar, semua yang hadir bersorak gembira. Mr. Gu mengatakan bahwa “air adalah kekayaan”, Perkumpulan ini mempunyai sumber air yang cukup, menandakan sumber keuangan yang tak putus-putus, juga mengharapkan anggota Perkumpulan yang masih muda meminum air selalu mengingat sumber air, dan penggali sumurnya, demikian juga tidak melupakan jasa leluhur.

Kemudian, bu Elisa sekali sekretaris menjelaskan bahwa setiap hari raya qingming dan dongzhi selalu diadakan sembahyang leluhur di kantor, pengurus juga sering mengadakan kegiatan sosial, misalkan tiga bulan sekali secara rutin mengadakan donor darah, menolong daerah yang terkena musibah alam, membagi sembako untuk masyarakat miskin di sekitar kantor, dan lain-lain, semua ini dilakukan sebagai wujud nyata ucapan syukur kepada leluhur.

Selanjutnya Konjen mengadakan silahturahim dengan warga Hakka, makan siang bersama, menikmati kuliner khas Hakka, antara lain: bakwan goreng yang gurih buatan bu Lilies, ayam arak buatan bu Meliana, daging hong, yong tahu buatan bu Handajani, haisom buatan bu Yenny, dan lain-lain, semua ini adalah hasil masakan ibu-ibu divisi wanita, kata bu Elisa, dari dahulu perempuan Hakka rajin, hemat, dan cekatan, pandai memasak, dan pandai membawa diri ketika di luar dapur, sungguh telah mewariskan budaya Tionghoa yang luhur.

Konjen sangat menikmati masakan khas Hakka ini, membuatnya merasa pulang kampungnya sendiri, tenggelam dalam suasana akrab dan ceria menjelang hari raya Imlek. Pak Alie sangat berterima kasih atas kunjungan Konjen Mr. Gu, yang telah membawa salam hari raya yang indah dari tanah leluhur untuk warga Hakka di Surabaya.

Konjen Mr. Gu dalam sambutannya berkata, bahwa datang di Perkumpulan yang berusia 200 tahun ini, beliau merasakan kehangatan suasana persaudaraan yang akrab, dan dapat menyaksikan betapa leluhur Hakka sudah berusaha keras memelihara dan mewariskan budaya Hakka.

Ratusan tahun yang lalu, leluhur orang Hakka dalam keterbatasannya, melawan segala mara bahaya, menyeberang lautan datang di Indonesia membuka lahan baru. Perkumpulan yang bersejarah ini telah menjadi saksi sejarah orang Tionghoa dan perkembangan masyarakat Tionghoa, memainkan peran aktif dalam mewarisi budaya tradisional Tionghoa, terutama budaya Hakka.

Diharapkan tempat ini bukan saja menjadi tempat bersantai untuk anggota yang senior, tetapi juga bisa menjadi basis untuk menumbuh-kembangkan budaya Tionghoa, terutama budaya Hakka, agar generasi muda memahami arti minum air tidak melupakan sumbernya, ingat jasa pendahulu, terutama belajar semangat mereka yang kokoh-kuat, pantang mundur, dan selanjutnya dapat memberikan sumbangsih untuk perkembangan hubungan Indonesia-Tiongkok. Setelah bertukar cindera mata, dan foto bersama, Konjen RRT Mr. Gu bersama rombongan mengakhir kunjungan singkatnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.