Kolaborasi ITS – Kemenhub Produksi Wind Shear Detector dan Standing Water Detector Guna Tingkatkan Keselamatan Penerbangan

0 10

Keselamatan transportasi udara menjadi perhatian paling menarik untuk dicermati saat ini sebagai upaya pencegahan kecelakaan dan meningkatkan keselamatan penerbangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan  RI bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Pengembangan Prototype Wind Shear Detector dan Standing Water Detector dalam Upaya Peningkatan Keselamatan Penerbangan’ di Gedung Rektorat ITS (5/12).

FGD membahas upaya pencegahan kecelakaan transportasi udara sebagai langkah lanjutan atas penelitian dua prototype Wind Shear Detector dan Standing Water Detector. Prototype hasil inovasi tim peneliti ITS diyakini mampu menjadi solusi atas terjadinya kecelakaan pesawat udara khususnya saat mendarat dan lepas landas.

Melania Suweni Muntini Kepala Peneliti Bidang Instrumentasi ITS yang mengkoordinasi kedua penelitian mengungkapkan alat tersebut sangat penting untuk mencegah potensi kecelakaan dengan penyebab wind shear (angin samping) dan standing water (genangan air) di landasan pacu. 

Kepala Badan Litbang Kemenhub, Sugihardjo mengungkapkan berdasarkan data dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), salah satu dari tiga penyebab utama terjadinya kecelakaan maupun kejadian penerbangan di antaranya melibatkan faktor angin dan hujan.

 “Ada ketentuan bahwa tinggi genangan di landasan pacu bandara tidak boleh lebih dari 3 milimeter karena bisa menyebabkan pesawat tergelincir saat mendarat landing,” papar mantan Ketua Sekolah Tinggi Transportasi Darat.

Karenanya, lanjut Sugihardjo, keberadaan kedua alat prototype ketika terjadi wind shear dan ada genangan air, maka bagian Air Traffic Controller (ATC) bandara dapat menginformasikan kepada pilot tentang kondisi di landasan pacu. 

“Sehingga nantinya, pilot dapat memutuskan lebih dini, apakah akan terus atau menghindar dari landasan pacu,” jelas pria yang juga pernah menjabat Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat.

Sugihardjo meyakini kedua alat yang sedang diteliti sangat diperlukan untuk keselamatan penerbangan. “Jika kita sudah mengembangkan dua alat itu serta diproduksi dalam negeri, maka tidak perlu lagi bergantung pada produk luar sehingga menghemat devisa negara,” tambah mantan Staf Ahli Menhub bidang Logistik dan Multimoda. 

Penelitian tersebut telah diujicobakan di Bandara Trunojoyo Sumenep Madura, ditargetkan tahun depan bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga ada sertifikasi dan produksi agar bisa diterapkan penggunaannya di bandara se-Indonesia. 

“Saat ini masih belum ada satu pun bandara di Indonesia yang menggunakan alat seperti ini,” akunya.

Dalam acara FGD hadir perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), KNKT, serta beberapa tenaga pendidik dari beragam departemen dan laboratorium di ITS dan asosiasi perdagangan serta akademisi guna memberikan masukan penyempurnaan penelitian kedua prototype. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.