Warning: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'ot_custom_fonts' not found or invalid function name in /home/wfjwpsuu/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php on line 286
Weather , , 0°C

印华日报

BERITA INHUA

 Breaking News

Klenteng Hoo Tong Bio, Tonggak Bersejarah Masyarakat Tionghoa di Banyuwangi

Klenteng Hoo Tong Bio, Tonggak Bersejarah Masyarakat Tionghoa di Banyuwangi
March 27
16:40 2018

Klenteng Hoo Tong Bio sebagai tempat peribadatan umat Khonghucu tertua di Jawa Timur dan Bali. TITD Hoo Tong Bio terletak di Kelurahan Karangrejo Banyuwangi yang dibangun masyarakat Tionghoa pada 1784. Bangunan klenteng dominan warna merah masih nampak kokoh terawatt dan sebagai peninggalan cagar budaya menjadi salah satu aset wisata sejarah dan religi kebangaan masyarakat Banyuwangi.

Klenteng Hoo Tong Bio memiliki luas hampir 400 meter persegi mampu menampung 500 umat beribadah. Merupakan klenteng terbesar di ujung Timur pulau Jawa yang memiliki ruang serba guna, sarana olahraga selain beberapa altar pemujaan kepada dewa dewi.

Dalam Babad Notodiningrat disebutkan etnis Tionghoa mulai menetap di Blambangan pada 1631 M. Masyarakat Tionghoa kebanyakan berada di Kelurahan Tukangkayu dan Karangrejo. Kelurahan Tukangkayu dikenal sebagai daerah Pecinan Kulon (Barat) dihuni banyak orang berprofesi sebagai tukang kayu. Sedangkan Karangrejo dikenal Pecinan Wetan (Timur) tempat berdirinya Klenteng Hoo Tong Bio.

Berdasarkan sejarah, Klenteng Hoo Tong Bio didirikan sebagai bentuk penghormatan jasa Tan Hu Cinjin yang menyelamatkan masyarakat Tionghoa di masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1740 terjadi pembunuhan etnis Tionghoa di Batavia hingga banyak yang melarikan diri. Tan Hu Cinjin memimpin pelarian orang Tionghoa hingga terdampar di Banyuwangi dan akhirnya menetap.

Nama Tan Hu Cinjin tertulis dalam prasasti dan bertanggal Qianlongflacan yang bertepatan dengan tahun 1784 sehingga menjadi dasar berdirinya Klenteng Hoo Tong Bio. Klenteng tersebut juga mengalami beberapa kali renovasi pada 1848 M dan 1898 M, bahkan pernah terbakar pada 2014.

Susan Ketua TITD Hoo Tong Bio menceritakan Hoo Tong Bio sebagai klenteng tertua untuk 9 klenteng dengan pujaan yang sama. Sembilan klenteng tersebut diantaranya berada di Lombok, Negara, Singaraja, Tabanan Bali, Rogojampi, dan Besuki Probolinggo.

Masih menurut Susan, banyak kegiatan yang diselenggarakan pengurus Klenteng Hoo Tong Bio diantaranya melakukan sembahyang rutin pada tanggal 1 dan 15 kalender China. Selain itu juga digelar senam Taichi, jalan pagi, olahraga badminton dan pingpong, juga karaoke bersama. “Pengurus juga menggelar bakti sosial pembagian sembako untuk membantu masyarakat kurang beruntung,” jelas Susan.

Pada 15 Maret kemarin, ujar Susan, TITD Hoo Ting Bio merayakan peringatan ke-234 Hari Kebesaran Yang Mulia Kongco Tan Hu Cinjin, sekaligus kirab dilaksanakan pada 17 Maret diikuti 19 klenteng se-Jawa, Bali dan Lombok. Kirab Budaya menampilkan arak-arakan Kim Sing,  barongsai, dan liang liong yang dilepas langsung Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Azwar Anas mengapresiasi pelaksanaan kirab budaya yang menunjukkan antusiasme warga Tionghoa memajukan Banyuwangi. Festival di Banyuwangi sebagai alat untuk mendorong solidaritas, kebudayaan, toleransi, tradisi dan inklusivisme. “Kirab Budaya bisa menjadi penguat menumbuhsuburkan toleransi antar umat beragama untuk bersama-sama membangun daerah,” tutur Azwar Anas.

Klenteng Hoo Tong Bio menjadi magnet wisatawan lokal maupun mancanegara datang berkunjung yang ditawarkan biro perjalanan wisata dan Disbudpar Banyuwangi. (AVR)

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment