Kelenteng Hok Swie Bio Bojonegoro Menjadi Destinasi Wisata Religi dan Saksi Perjalanan Warga Pranowo

0 5

Bojonegoro adalah salah satu kabupaten di Jatim yang dilewati Sungai Bengawan Solo sehingga menyuburkan wilayahnya tak mengherankan pula bila dikenal sebagai penghasil tembakau Virginia terbaik di dunia. Bojonegoro dilalui jalur dari Surabaya menuju Jakarta dengan wilayah terdiri atas 27 kecamatan, 419 desa dan 11 kelurahan.

Tidak hanya suku Jawa yang tinggal di Bojonegoro tapi juga Tionghoa sejak jaman dahulu hidup rukun damai. Menariknya warga Tionghoa yang tinggal di Bojonegoro menyebut dirinya adalah Pranowo atau Peranakan Jowo, karena budaya dan bahasa telah bercampur mengalami akulturasi. 

Berdasarkan sejarah diperkirakan leluhur warga Tionghoa datang dari Tiongkok semasa Dinasti Tang yang menyinggahi kota-kota pesisir seperti Lasem, Tuban, Gresik, Surabaya, Banten dan Jakarta.  Anehnya di Bojonegoro tidak ada Pecinan namun tidak pernah terdengar perpecahan yang nampak hanyalah keguyuban dalam kehidupan keseharian masyarakatnya.

Sekedar diketahui warga Tionghoa di Bojonegoro sebelum kemerdekaan memiliki wadah kerukunan dan jalinan persahabatan yakni Cong Hwa – Cong Hwe. Tak lama ada wadah lain pun dibentuk yakni Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Dua wadah warga Tionghoa itu sudah tidak ada lagi semasa Orba.

Tempat ibadah warga Tionghoa yakni TITD Hok Swie Bio sebagai ikon Kota Bojonegoro dan menjadi salah satu wisata religi yang terkenal dengan ornamen kepala naga didominasi warna merah. Selain itu pada dindingnya dihiasi ornamen bebatuan menggambarkan kepala naga dan empat pilar utama yang bersimbol naga. Di pintu utama terdapat Dewa Penjaga Pintu.

Klenteng Hok Swie Bio didirikan tahun 1879 dengan tiga Dewa pemujaan yakni Dewa Bumi, Dewi Asih Kwan Im Poo Sat, dan Dewa Keadilan. Hok Swie Bio berasal dari bahasa Hokian berarti Kelenteng yang membawa rejeki dan kebaikan. Masih di dalam kelenteng, terdapat lukisan Sun Go Kong legenda kera sakti yang sangat populer karena menggambarkan ajaran Buddha Dharma. 

Legenda Kera Sakti yang menceritakan kisah perjalanan penuh kesulitan dialami Hsuan Tsang bersama Chu Pa Chieh yang serakah, Sha Ho Shang berkarakter lemah tak bersemangat dan Sun Go Kong penuh kelincahan tapi egois dan sombong. Biksu Tong (Hsuan Tsang) selalu memperingati mereka yang bandel lantas membacakan mantera Avalokitesvara Bodhisattva. 

Keberadaan Hok Swie Bio juga menjadi simbol kerukunan antar umat beragama yang setiap Jumat menyediakan makanan buka puasa untuk umat Islam pada bulan Ramadhan. Warga dan pengguna jalan di sekitar kelenteng antusias datang untuk berbuka puasa. Seorang Ustad memimpin doa selanjutnya panitia membagi 300 – 400 piring makanan dan minuman kepada warga yang mengantri. Kegiatan menyediakan buka puasa bersama telah dilakukan pengurus selama 10 tahun. 

Tak hanya sebagai simbol kerukunan, Kelenteng Hok Swie Bio  tercatat dalam Rekor Muri karena melakukan kirab ritual dan budaya dengan peserta terbanyak pada 2018 lalu. Tercatat 146 peserta dari berbagai kelenteng di tanah air yang membawa 144 Kiem Sien/rupang/dewa dewi dan 85 Kio/Joli dewa dewi. Kegiatan kirab ritual dan budaya yang diselenggarakan Kelenteng Hok Swie Bio menjadi daya tarik wisata masyarakat setempat dan luar kota. 

Kegiatan menarik di Kelenteng Hok Swie Bio diunggah para nitizen, diantaranya sutiknoz_agus menuliskan kemeriahan kirab diikuti kelenteng seluruh tanah air dan masyarakat sangat antusias menyambut dengan berswafoto. Demikian pula Hakim Sunjoyo yang mengambil gambar Kelenteng Bojonegoro di waktu pagi dan indo.punyawisata mengabadikan kemeriahan perayaan Imlek di Hok Swie Bio. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.