The news is by your side.

Jejak Hakka Surabaya, Sebuah Film tentang Sejarah Hakka

0 12

Sejarah kedatangan hingga kegiatan keseharian yang dilakukan Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya menarik perhatian tiga pelajar SMA Kristen Gloria 2 Surabaya. Yohanes Christofel, Jonathan Ivan dan Pierre Rainer membuat film sejarah perjalanan kedatangan warga Hakka ke Surabaya hingga mendirikan Perkumpulan Hwie Tiauw Ka dengan mewawancarai narasumber diantaranya ketua perkumpulan Alie Handojo dan ahli sejarah dari Universitas Airlangga, Shinta Devi.

Ketiga pelajar itu melakukan penelitian hingga jadi sebuah film selama sebulan penuh dan melalui proses editing dua minggu lamanya. Kemudian film diserahkan panitia Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2018 yang digelar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Film ‘Jejak Hakka Surabaya’ dinyatakan keluar sebagai pemenang pada 5 Oktober 2018 lalu yang diapresiasi Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Film Jejak Hakka Surabaya mengalahkan 654 film lain yang dibuat pelajar SMA seluruh Indonesia.

Direktur Sejarah Riana Wulandari melaporkan pelaksanaan lomba karya audiovisual sejarah sangat penting karena melalui tayangan sejarah yang berkualitas, masyarakat akan memahami arti sebuah kebersamaan, kehidupan, berbangsa dan bernegara. Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah dilatar belakangi pentingnya sejarah bagi pendidikan karakter generasi muda yang mendalam tentang hidup dari pengalaman nyata bangsa di masa lalu guna membangun kesadaran dan pemahaman tentang jati diri bangsa.

Hal itu nampak jelas dalam Film Jejak Hakka Surabaya di mana seluruh anggota perkumpulan yang keturunan Tionghoa memiliki peran besar dalam kehidupan berbangsa bernegara. Warga Hakka yang datang ke Surabaya kala itu turut berjuang bersama pemuda setempat saat kota diserang sekutu. Warga Hakka di Surabaya turut memajukan ekonomi kota.

“Masyarakat Hakka gigih dalam bekerja. Mereka terkenal pekerja yang ulet sejak jaman dahulu,” beber salah satu anggota perkumpulan membuka alur film Jejak Hakka Surabaya.

Masih kisah Jejak Hakka Surabaya, Alie Handojo menuturkan dalam sejarah leluhur Perkumpulan Hwie Tiauw Ka pertama kali datang, hingga saat ini berusia 198 tahun tetap berada di Jalan Slompretan di kawasan Pecinan Surabaya yang sangat terkenal pada masa lalu.

“Perkumpulan Hwie Tiauw Ka memiliki berbagai kegiatan bakti sosial kemasyarakatan seperti membagi sembako, menggelar donor darah, turut memajukan dan mengembangkan budaya Tionghoa diantaranya mengadakan lomba Xianqi, upacara peringatan Ceng Beng, Tiong Ciu Pia, Dong Zhi Jie, dan masih banyak lagi,” tutur Alie Handojo yang meminta ketiga pelajar aktif dalam muda mudi HTK.

Alie Handojo memuji ketiga pelajar SMA Kristen Gloria 2  yang mengangkat kebersamaan warga Hakka Surabaya hingga mengantarkan film mereka menjadi juara satu. “Saya tidak menyangka anak muda mau mengangkat sejarah Hakka Surabaya, ini pemikiran luar biasa. Memang Perkumpulan HTK cukup lama dan dua tahun mendatang berusia 200 tahun. Warga Hakka Surabaya mengikuti perkembangan jaman turut berpartisipasi membangun Indonesia, karena kami mengabdi kepada bangsa. NKRI tidak bisa ditawar karena kami lahir dan mati di sini wajib mencintai Indonesia,” tegas Alie Handojo.

Yohannes dalam kesempatan itu menjelaskan mengapa tertarik mengangkat sejarah Hakka Surabaya agar masyarakat mengetahui dan menyadari keberadaan orang Hakka di Surabaya yang turut andil dalam perjuangan bangsa. “Selain itu Perkumpulan HTK memiliki kegiatan kepedulian tinggi kepada masyarakat sekitarnya,” ujar Yohanes yang berharap orang muda tidak mati rasa terhadap sejarah.

Elisa sebagai moderator yang juga dosen UK Petra mengaku bergetar hatinya melihat film yang dibuat ketiga pelajar tersebut. “Film Jejak Hakka Surabaya sangat bernilai bagi sejarah bangsa,” ujarnya. Hal yang sama dikatakan Stefanus Guru Sejarah SMA Gloria 2, mengakui warga Hakka memiliki kontribusi besar terhadap kemajuan masyarakat Surabaya. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.