The news is by your side.

Infrastruktur Air Bersih Jadi Prioritas di Asmat

17

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memprioritaskan pembangunan infrastruktur air bersih dan sanitasi di Kabupaten Asmat, Papua. Perilaku hidup yang kurang sehat dan bersih berdampak pada kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang menyerang warga.

“Yang mendesak adalah infrastruktur air minum dan sanitasi. Memang ada tingkat kemahalan di Papua, minimal tiga kali lipat dibandingkan dengan membangun di tempat lain. Namun, harus kita bangun,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto dalam keterangan tertulisnya, Jumat 9 Februari 2018.

Air bersih sulit didapatkan di Asmat karena kontur geografisnya adalah tanah rawa. Kondisi ini diperburuk oleh pasang surut air laut, sehingga air bersih sulit didapat.

“Di sana sulit dapat air karena endapan sedimennya rata-rata 200 meter. Sumur bor ada tetapi airnya payau,”kata Arie.

Sementara itu, di distrik Agats, salah satu wilayah yang terdampak KLB gizi buruk dan campak, terdapat instalasi pengolahan air (IPA) dengan kapasitas 10 liter/detik. Kapasitas itu juga masih kurang karena hanya bisa memenuhi sepertiga penduduk Agats yang berjumlah sekitar 30 ribu jiwa dan air yang dihasilkan berwarna coklat.

“Untuk itu tahun ini kita akan bangun IPA baru dilengkapi teknologi agar air yang dihasilkan tidak lagi berwarna coklat,” ujar Arie.

Salah satu kiatnya, Kementerian PUPR akan membuat penampungan air hujan yang bisa dimanfaatkan saat musim kemarau. “Curah hujannya sangat tinggi dan menjadi sumber air bersih utama. Namun, tantangannya, air hujan miskin kandungan mineral,” kata Arie.

Perbaikan instalasi pengelohan air seperti pipa bocor dan pompa terus dikebut. Itu disusul dengan penambahan pipa untuk memperluas layanan sesuai dengan kapasitas IPA, dan membangun IPA baru bagi daerah yang memiliki sumber air baku melalui program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas).

“Pada setiap distrik paling tidak ada tiga desa yang menjadi lokasi pamsimas. Kapasitas IPA tidak besar, yakni 1 liter/detik tapi bisa untuk memenuhi kebutuhan 500 orang. Cukup untuk satu desa,” jelas dia.

Direktur Keterpaduan Infrastruktur Permukiman Kementerian PUPR Dwityo Akoro Soeranto menambahkan masalah lain yang ditemukan di Asmat adalah sanitasi yang buruk. Mayoritas rumah-rumah di sana belum memiliki fasilitas untuk buang air besar, sehingga masalah ini juga turut membuat hidup masyarakat di sana kurang sehat.

“Mengatasi hal ini akan dibangun fasiltas MCK komunal yang disesuaikan dengan pasang surut air laut. Medianya menggunakan botol air mineral yang dicacah dan ditambahkan bakteri pengurai,” jelas Dwi. Di sana juga akan dipasang modul septic tank dengan umur fungsi selama dua tahun dan minim perawatan. Bila sudah mencapai umur fungsinya, modul akan diganti dengan yang baru.

Pemasangannya akan melibatkan masyarakat melalui program padat karya. Selain di perumahan warga, MCK komunal juga akan dipasang di puskesmas dan sekolah.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.