The news is by your side.

Indonesia memperluas kerja sama nuklir dengan China

0 26

Perjanjian itu ditandatangani di Beijing pada 29 Agustus oleh Geni Rina Sunaryo, Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir Batan dengan Yuliang Sun, Wakil Direktur Tsinghua University’s Institute for Nuclear and New Energy Technology (INET).

Batan mencatat kolaborasi terbaru merupakan kelanjutan dari kerjasama penelitian yang ada antara China dan Indonesia. Sebagai bagian dari itu, mereka setuju untuk mengimplementasikan program laboratorium gabungan gas-cooled reactor (HTGR) bersuhu tinggi.

Ketua Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan proyek Batan untuk membangun Reaktor Daya Eksperimental (Reaktor Daya Eksperimental, RDE), sebuah reaktor modular kecil 10 MWt pribumi. Proyek itu kini telah memasuki tahap perancangan desain teknik rinci.

Batan mengatakan bahwa Universitas Tsinghua dipilih sebagai mitra dalam pembangunan RDE karena universitas memiliki pengalaman di HTGR.

“Saya pikir ini bagus untuk program Batan RDE, karena Tsinghua University memiliki pengalaman membangun HTGR 10 MWt dan saat ini terlibat dalam pembangunan HTGR yang lebih besar yaitu 250 MWe,” kata Wisnubroto.

Penandatanganan perjanjian kerjasama berlangsung pada awal pertemuan yang berlangsung 29-31 Agustus. Selama pertemuan ini, mereka sepakat untuk mendiskusikan program kerja selama tiga tahun ke depan, terutama dalam merancang HTGR yang lebih besar dari RDE yang akan dibangun di Indonesia.

Pada Agustus 2016, Batan menandatangani perjanjian dengan China Nuclear Engineering Corporation (CNEC) untuk mengembangkan HTGR bersama di Indonesia dan melatih pekerja.

CNEC telah bekerja dengan Tsinghua University sejak 2003 untuk desain, konstruksi, dan komersialisasi teknologi HTR. Para mitra menandatangani perjanjian baru pada Maret 2014 yang bertujuan untuk memajukan kerjasama dalam pemasaran internasional dan domestik teknologi reaktor maju.

Batan meluncurkan rencana pada tahun 2014 untuk membangun 10 MWt RDE di situs pusat penelitian terbesarnya – Kompleks Puspiptek, di Serpong, Tangerang Selatan, Banten – sebagai tonggak strategis pertama untuk memperkenalkan armada pembangkit listrik tenaga nuklir skala besar ke negara tersebut. RDE adalah HTGR kerikil berukuran sangat kecil dengan bahan bakar TRISO oksida uranium yang diperkaya rendah.

Batan mempromosikan pengenalan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia untuk membantu memenuhi permintaan negara untuk kekuasaan. Ini membayangkan start-up reaktor air ringan besar konvensional di pulau-pulau padat di Bali, Jawa, Madura dan Sumatra dari 2027 dan seterusnya. Selain itu, perencanaan untuk penyebaran HTGR kecil (hingga 100 MWe) di Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau lain untuk memasok listrik dan panas untuk keperluan industri.

Wisnubroto berkata, “Semoga orang-orang akan menyadari bahwa Batan akan menjadi internasional, bermitra dengan universitas-universitas terkenal di dunia, sehingga kita dapat lebih dipercaya dalam mengimplementasikan program energi nuklir di Indonesia.”

World Nuclear News

Leave A Reply

Your email address will not be published.