The news is by your side.

IMF Melihat Pertumbuhan Jangka Menengah Indonesia Meningkat Menjadi 5,6 Persen

42

Washington. Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia akan meningkat secara bertahap menjadi sekitar 5,6 persen dalam jangka menengah, yang dipimpin oleh permintaan domestik yang kuat, namun memperingatkan untuk tidak terlalu banyak melimpahi dorongan negara tersebut untuk mendorong investasi infrastruktur.

IMF, dalam tinjauan tahunan atas kebijakan ekonomi Indonesia, yang dirilis di Washington pada hari Selasa, memproyeksikan inflasi tahunan akan tetap sekitar 3,5 persen, dengan ekspektasi inflasi yang terjaga dengan baik. Defisit neraca berjalan Indonesia diperkirakan akan tetap mendekati 2 persen dari produk domestik bruto karena harga komoditas yang kuat dan ekspor yang kuat, kata dana tersebut.

Laporan IMF memproyeksikan tingkat pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia 2018 pada 5,3 persen, dibandingkan dengan 5,1 persen pada 2017.

“Resiko terhadap prospek tetap condong ke sisi negatifnya, termasuk lonjakan volatilitas keuangan global, ketidakpastian seputar kebijakan ekonomi A.S., penurunan pertumbuhan di China dan ketegangan geopolitik,” kata IMF.

Sementara pertumbuhan global dan harga komoditas bisa mengejutkan sisi positifnya, membantu prospek Indonesia, IMF mengatakan bahwa risiko domestik termasuk kekurangan pajak dan kebutuhan pembiayaan fiskal yang lebih besar karena suku bunga yang lebih tinggi.

Dewan eksekutif IMF mendesak pemerintah Indonesia untuk tetap waspada terhadap risiko termasuk dari arus modal yang volatile dan penyesuaian fiskal pada tahun 2018 harus bertahap untuk melindungi pertumbuhan dan membangun kembali penyangga fiskal.

Direktur IMF mengatakan bahwa mereka menyambut baik kemajuan Indonesia dalam meningkatkan investasi infrastruktur, namun menekankan bahwa langkah tersebut harus disesuaikan dengan pembiayaan yang tersedia dan kemampuan ekonomi untuk menyerap investasi baru.

“Prioritas harus diberikan untuk pembiayaan infrastruktur dengan pendapatan dalam negeri, serta partisipasi sektor swasta yang lebih besar, termasuk investasi langsung asing,” kata dewan IMF dalam penilaiannya. “Ini akan membatasi penumpukan hutang eksternal perusahaan dan kewajiban kontinjensi dari badan usaha milik negara.”

Dewan IMF juga meminta pihak berwenang untuk mengurangi kontrol negara dan peran perusahaan milik negara di beberapa sektor ekonomi dan untuk memperbaiki tingkat dan kualitas belanja pendidikan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.