Gubernur Jatim Paparkan Pentingnya Kerjasama Antar Daerah Guna Menekan Biaya Logistik dan Mengoptimalkan Potensi

0 5

Sebagai langkah peningkatan kerjasama antar daerah dapat dilakukan dengan cara memperkuat pasar domestik, memperkuat basis industri pengolahan di berbagai pulau serta dukungan SDM ke daerah lain. Selain kerjasama antar daerah, Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim menekankan pentingnya tiga aspek ekonomi utama yang harus dilakukan untuk meningkatkan daya saing. Ketiga aspek adalah produksi, pembiayaan dan pemasaran.

Paparan tersebut disampaikan Gubernur Jatim Soekarwo ketikamenjadi narasumer Talkshow Outlook Perekonomian Indonesia 2019 dengan tema ‘MeningkatkanDaya Saing Untuk Mendorong Ekspor’ bersama Menkeu Sri Mulyani, MenkoPerekonomian Darmin Nasution dan Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani di BallroomHotel Ritz Carlton Pasific Place Jakarta (8/1).

Lebih lanjut Soekarwo menjelaskan kerjasama antar daerah yang dibangun pemerintah setidaknya mampu mengoptimalkan potensi daerah, apalagi pasar Asean sebesar 40% berada di Indonesia. Kerjasama antar daerah dapat mengurangi beban.

Jatim memiliki 26 Kantor Perwakilan Dagang di 26 provinsi yang efektif membantu meningkatkan kerjasama antar daerah, seperti misi dagang 2016 dengan mengimpor bawang dari Jatim perbulan mencapai Rp 980 Juta. Jatim juga mengirim tenaga kerja petani ke kabupaten tersebut.

Sampai saat ini upaya pemerintah menekan biaya logistik menjadi lebih murah dengan membangun infrastruktur dan beberapa kebijakan. Namun biaya pengiriman barang antar daerah masih lebih mahal dibanding ke luar negeri. Soekarwo mengungkapkan pengiriman barang antar daerah memiliki perbedaan cukup besar.

Soekarwo menyebutkan pengiriman kontainer 20 feet dari Surabaya ke Makasar mencapai Rp 20 Juta sedangkan ke Singapura hanya Rp 2,8 Juta dan ke Jepang Rp 4,2 Juta. Demikian pula dari Surabaya ke Jayapura mencapai Rp 20 hingga 57 Juta dan ke Merauke sebesar Rp 23 juta.

Pentingnya kerjasama antar daerah yang harus menjadi perhatian banyak pihak, tutur Soekarwo. Apa yang diungkap Soekarwo dibenarkan Roslan Roeslani dengan menegaskan cost logistik Indonesia termasuk mahal.

Perdagangan Antar Daerah Menjadi Prioritas Jatim

Jatim sebagai pintu perdagangan Indonesia Timur memprioritaskan perdagangan dalam negeri terutama bahan pokok seperti beras dan gula yang berkontribusi sekitar 40% dari total perdagangan antar pulau. Sisanya beragam produk industri olahan makanan minuman, sementara itu UMKM masih sangat kecil.

Keberadaan 26 Kantor Perwakilan Dagang (KPD) yang tersebar di berbagai provinsi memperkuat pasar dalam negeri bagi produk yang dihasilkan Jatim. Keberadaan KPD selain meningkatkan perdagangan juga memberi fasilitas mempertemukan para pengusaha mitra provinsi lain.

Adapun nilai perdagangan domestik Jatim pada 2017 mencapai Rp. 164,49 Triliun sedangkan perdagangan luar negeri baik ekspor impor defisit Rp 68,23 Triliun. Memburuknya neraca perdagangan luar negeri karena lesunya kondisi ekonomi global. Sektor non migas paling berpengaruh terhadap neraca perdagangan luar negeri Jatim adalah perhiasan dan permata. Namun pada Oktober ke November 2018 menurun menyentuh 66,61%. Tapi masih menjadi penyumbang tertinggi ekspor yakni 142,2 Juta USD.

Tercatat impor nonmigas terbesar selama Januari hingga Oktober 2018 didominasi Tiongkok sebesar 27,34% dari total ekspor, disusul Amerika Serikat 7,05% dan Singapura 5,60%. Pada Oktober 2018 impor Tiongkok mencapai USD 501,5 juta disusul Thailand USD 132, 89 juta. Tiongkok sebagai negara terbesar pengimpor ke Jatim. Negara Asean menjadi salah satu pemasok barang komoditi nonmigas ke Jatim mencapai USD 3,02 miliar. (AV/fotodok.@jatimpemprov)

Leave A Reply

Your email address will not be published.