Ditengah Kesulitan Keluarga, Ada Anak Berbakti

0 4

Singkawang-Harian InHua. Jika banyak anak jaman sekarang, menghabiskan waktu kesehariannya bermain games, berkunjung ke mal atau pusat perbelanjaan, namun tidak demikan dengan gadis kecil yang satu ini.

Bong Lily, demikian nama panggilan bocah perempuan ini. Usianya baru menginjak 10 tahun, namun perjuangannya untuk bisa mengenyam pendidikan harus ditempuh dengan kerja keras.

“Kue..Kue…Pisang Goreng…Pisang Goreng, beli Pisang Goreng bu….. terdengar suara lembut seorang bocah perempuan yang sedang menawarkan dagangannya di sebuah pemukiman warga, di Jalan Burhani, Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang, Selasa 7 Mei 2019.

Warga sekitar sudah hapal bahwa yang menjajakan dagangan Pisang Goreng itu adalah suara Bong Lily, bocah penjual kue berkeliling yang setiap harinya membantu ibunya berjualan seusai pulang sekolah.

Bong Lily adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang beralamat di komplek pekuburan Jalan Burhani, Rt 24, Rw 10, No. 67, Kelurahan Pasiran, Singkawang Barat.

Bocah perempuan yang duduk di bangku kelas 3, SD Negeri 31 Singkawang itu, sudah bertahun-tahun berjualan kue bersama dua orang adiknya, Bong Phin Cen (usia 8 tahun), dan Bong Cin Hiung (usia 6 tahun).

Beda antara Bong Lily dengan dua adiknya. Kalau Bong Lily berjualan kue dengan berjalan kaki menyusuri kawasan pemukiman warga. Sedangkan kedua adiknya Bong Phin Cen dan Bong Cin Hiung lebih memilih berjualan dengan menggunakan sepeda.

Mereka menjual aneka jenis kue. Ada Kue Wajik, Kue Cucor, Kue Kelapa, Ubi Goreng, Kacang Hijau Goreng, dan juga Pisang Goreng yang ditaruh ke dalam keranjang dan juga di atas boncengan sepeda dengan tutupan boks plastik.

Bapak Bong Lily adalah seorang Montir bengkel yang merantau keluar daerah. Sedangkan Ibunya adalah ibu rumah tangga yang mengasuh anak bayinya yang baru berusia 2 bulan.

Bong Lily bersama kedua adiknya sudah berdagang kue keliling kampung sejak kelas I SD. Ia ngotot meminta ibunya mengizinkan dirinya berjualan kue keliling lantaran ingin menjadi anak yang berbakti yang tahu dengan beban kesulitan orang tua.

Semangat perjuangan bocah yang satu ini, memang patut dicontoh. Meski usianya baru 10 tahun, dia rajin belajar dan bekerja. Keputusan bocah perempuan ini dalam berjualan kue bukan tanpa alasan.

Ditanya sejak kapan mulai berjualan kue, Bong Lily menjawab mulai berjualan sejak kelas 1 SD.

“Sejak kelas 1 SD saya sudah mulai berjualan kue pak. Ini keinginan saya membantu keluarga. Tempat jualannya saya tidak tetap. Kadang di sekitar tempat tinggal saya, kadang berjualan dari satu kampung ke kampung lainnya yang jaraknya cukup jauh,” kata Bong Lily.

Ia menyampaikan bahwa dirinya ingin terus membantu orang tuanya yang sedang kesulitan ekonomi. Apalagi, dia juga memiliki satu adik laki-laki yang baru berusia 2 bulan yang perlu susu formula.

Setiap hari, sekitar pukul 13.00 Wib, siswa kelas 3 ini mulai berjualan dari rumahnya dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 18.00 Wib, atau terkadang dia pulang hingga pukul 19.00 Wib.

“Saya bilang ke ibu mau bantu jualan kue setelah pulang sekolah, karena saya kasihan melihat kesulitan ekonomi kedua orang tua saya. Selain itu, dengan membantu berjualan kue, saya dan kedua adik bisa mendapat tambahan uang jajan di sekolah. Saya lakukan semua ini dengan senang hati. Terkadang capek juga berjualan, tapi sudah niat saya membantu orang tua,” kata Bong Lily kepada Harian InHua.

Ibunya memberi syarat, anaknya boleh jualan, tetapi nilai pelajaran di sekolah tidak boleh turun.

Ia mengaku, pada masa-masa awal berjualan, ia merasa canggung. Setelah sekian lama menggeluti usahanya itu, ia pun merasa sudah terbiasa. Bahkan tidak jarang, dagangannya sudah habis terjual semuanya hanya dalam hitungan satu jam.

Pelanggannya cukup banyak, bahkan pelukis cilik Ling Ling juga menjadi pelanggannya.

Bong Lily mengaku dalam sehari ia bisa membawa pulang uang Rp 25.000 hingga Rp 30.000. Keuntungan dari hasil jualan ia berikan semua kepada ibunya.

Setelah dihitung, selisih hasil jualan ia tabungkan, yang nantinya dibelikan susu formula untuk adiknya yang masih bayi.

“Kalau ada uang lebih, saya tabung untuk dibelikan susu kepada adik bungsu saya saya,” ucapnya.

Saat ini sepeda yang dipakai untuk berangkat sekolah dan jualan sudah rusak. Begitu juga dengan sepatu dan ats sekolahnya yang kondisinya sudah usang.

Ia bertekad menyisihkan uangnya untuk membeli sepatu dan tas sekolah yang baru. Tapi, dirinya mengaku, entah kapan baru bisa memenuhi keinginanya memiliki seragam sekolah dan tas sekolah yang baru.

Di tempat tinggalnya komplek pekuburan Tionghoa Jalan Burhani, tidak ada wahana bermain. Namun dirinya tidak pernah memikirkan untuk bermain. Yang tertanam dibenaknya hanya ingin membantu beban kesulitan kedua orang tuanya.

Senyum ceria selalu ia tunjukkan dan seakan tidak beban yang menggambarkan bahwa masa kanak-kanaknya telah direngut dengan berjualan.

Mencari nafkah atau mencukupi kebutuhan hidup sebuah keluarga, umumnya dilakukan oleh kepala keluarga atau orang tua. Namun apa jadinya, jika kondisi orang tua tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu ? Disinilah tampil anak berbakti bernama Bong Lily bersama kedua adiknya turun tangan membantu mengambil alih peran yang dilakukan orangtua. Kisah perjuangan bocah perempuan bernama Bong Lily ini sungguh membanggakan sekaligus menghadirkan keharuan bagi siapapun yang menyelaminya.

Ditengah beban kesulitan keluarga, ada anak berbakti.(Rio Dharmawan)


Leave A Reply

Your email address will not be published.