The news is by your side.

BPS: Indonesia Tetap Tumbuh Meski Ditengah Perang Dagang AS – China

0 54

Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu mengingatkan pentingnya investasi dan ekspor Indonesia. Pasalnya, menurut Jokowi, kedua hal tersebut adalah kunci penting kemajuan ekonomi Indonesia.

Untuk itu selama era pemerintahannya Jokowi senantiasa menggenjot pertumbuhan ekspor nasional tak hanya ke negara tetangga, bahkan ke seluruh dunia. Alhasil meski saat ini dua kekuatan besar dunia yaitu AS dan China tengah perang dagang, namun faktanya ekspor Indonesia kedua negara tersebut justru meningkat.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, besaran nilai ekspor ke negara yang sedang perang dagang justru mengalami peningkatan, terhadap Negara China. Hal itu dijelaskan Suhariyanto di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (25/6).

“Pangsa ekspor kita tidak berubah, 15,05% tertuju ke China nilainya US$ 10,25 miliar, disusul AS 10,91% nilainya US$ 7,43 miliar, dan Jepang 10,09% nilainya US$ 6,87 miliar,” ujar Suharyanto.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perang dagang yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dengan China tidak menghambat laju kinerja ekspor Indonesia. Berdasarkan pantauan BPS per Mei 2018, kinerja ekspor Indonesia mencapai US$ 16,12 miliar atau meningkat 10,90% dibandingkan April 2018, sedangkan dibandingkan Mei 2017 meningkat 12,47%.

Ia menambahkan untuk angka kumulatifnya, ekspor Indonesia ke negeri tirai bambu sebesar US$ 10,25 miliar, dimana angka ini lebih besar dibandingkan periode yang sama di 2017 yang sebesar US$ 7,80 miliar.

“Ini menunjukkan meski ada perang dagang ekspor kita tetap tumbuh, terutama Tiongkok menggembirakan,” jelas dia.

Suhariyanto mengungkapkan, per Mei 2018 nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok bertambah US$ 278 juta. Produk yang meningkat seperti bahan bakar, besi dan baja. Sedangkan nilai ekspor ke AS bertambah US$ 143 juta di mana produknya seperti barang rajutan dan timah. “Kalau dilihat barang-barang yang dipajakin tetap naik ekspor kita,” jelas dia.

Meski demikian, Suhariyanto menyebut bahwa pemerintah harus terus memperluas negara-negara tujuan ekspor. Sebab, sampai saat ini sekitar 36,05% ekspor nasional hanya kepada tiga negara saja, yakni China, AS, dan Jepang.

“Tentunya perang dagangan ini ada sisi positif ada sisi negatif. Positifnya kita punya kesempatan untuk mengirimkan berbagai produk ke sana, tapi sisi negatif harus dijaga kemungkinan Tiongkoknya terganjal ekspor besi dan baja, jangan sampai merembes ke kita,” kata Suhariyanto.

Peningkatan Ekspor Indonesia 12,47%

Badan Pusat Statistik mencatat ekspor pada Mei 2018 US$ 16,12 miliar. Angka ini tumbuh 12,47% dibanding dengan kinerja ekspor pada periode yang sama tahun lalu.

“Pada Mei nilai ekspor US$ 16,12 miliar, perkembangan month to month, angka ini tumbuh bagus, perhatikan pada nilai ekspor 2018 ini tumbuh 10,90% dibanding April 2018. Sementara YoY lumayan bagus tumbuh 12,47%,” kata Suhariyanto.

Dikatakan Suhariyanto, kinerja ekspor ini ditopang oleh naiknya nilai ekpor migas dan nonmigas. Ekspor migas Mei 2018 naik 28,80%. Sementara ekspor non migas naik 9,25%. Penambahan volume ekspor bersumber dari kenaikan ekspor komoditas timah, besi dan baja. “Jadi dengan melihat US$ 16,12 miliar ini cukup menggembirakan,” tuturnya. (Gesuri.id)

Leave A Reply

Your email address will not be published.