Bermekaran Bunga Mirip Sakura di Surabaya

Warga Berharap Raih Guangzhou International Award for Urban Innovation 2018

0 23

Bila berjalan-jalan ke Surabaya saat ini jangan heran mendapati nuansa layaknya di Jepang dengan bermekarannya bunga-bunga Sakura.  Tapi sesungguhnya itu pohon Tabebuya (Chrysotricha) berasal dari Brasil termasuk jenis pohon besar. Kebanyakan orang menyebutnya pohon Sakura, karena memang bunganya sangat mirip. Pohon Tabebuya memiliki kelebihan yakni daunnya tidak mudah rontok, akarnya tidak merusak rumah atau tembok, dan berbunga indah.

Bunga Tabebuya terpantau berguguran dan membuat suasana jalanan raya di Surabaya terasa romantis. Tak jarang momen tersebut dimanfaatkan warga untuk berfoto. Bunga warna pink, kuning dan putih salah satu dari banyak jenis Tabebuya ungkap Hendri Setianto Kabid RTH dan PJU Dinas Kebersihan dan ruang Terbuka Hijau.

Di Surabaya hanya ditanam tiga warna dan mekarnya pada bulan Oktober November puncaknya Desember mendatang. Ada ratusan jumlah tanaman Tabebuya tersebar di seluruh Surabaya yang bibitnya didatangkan dari Malang dan ditanam sejak 4 tahun lalu, imbuh Hendri Setianto.

Keindahan, kenyamanan dan perkembangan Surabaya sangat membanggakan warganya. Banyak penghargaan yang diraih Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Walikota Tri Rismaharini. Saat ini Rism pun mengajak warganya mengikuti vote agar Surabaya meraih Guangzhou International Award for Urban Innovation Award 2018 karena telah empatkali gagal dalam penghargaan tersebut.

“Ayo warga Surabaya mengikuti vote memilih Surabaya agar memenangkan Guangzhou Award kali ini. Minta doanya supaya saya berhasil mempresentasikan Surabaya di depan 400 juri, itu tidak gampang,” ajak Risma.

Hingga berita ini diturunkan, peringkat pertama pilihan masyarakat masih jatuh pada Kota Yiwu China dengan perolehan 87428 suara, Surabaya Indonesia  meraih 73227 suara dan Wuhan China meraih 71724 suara. Deadline vote pada 7 Desember mendatang, tepat pukul 3 sore waktu setempat. 

Yiwu dihuni 2,2 juta penduduk sebagai kota menginovasi layanan luar negeri untuk membangun harmonisasi dan integrasi.  Sedangkan Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dengan pengelolaan sampah terbaik melibatkan masyarakatnya. Wuhan berpenuduk 10.890.000 jiwa sebagai kota mengolah sampah, ekologi perkotaan dan mengembalikan pluralitas. 

Ketiga kota memiliki keistimewaan tersendiri dan bersaing memenangkan Guangzhou Award 2018. Tahun ini tercatat 15 kota dari seluruh dunia yang masuk final. Surabaya satu-satunya mewakili Indonesia di ajang tersebut. Surabaya sebagai salah satu kota terbesar di Asia Tenggara yang bersaing dengan Yiwu dan Wuhan (China), Mezitli (Turki), Sydney (Australia), Salvador (Brazil), Kazan (Rusia), Milan (Italia), Repentigny (Kanada), New York (USA), Durban (Afrika Selatan), Santa Ana (Costa Rica), Utrecht (Belanda), Santa Fe (Argentina), dan Guadalajara (Mexico).

Sebelum final, Surabaya bersaing dengan 193 kota dari 66 negara. Pada 5 Desember mendatang Walikota Surabaya memberikan presentasi di hadapan para juri di Guangzhou membawakan tema menjaga lingkungan dengan melibatkan masyarakat dalam mengelola sampah. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.