The news is by your side.

Benarkah kita menuju standar emisi Euro 4?

0 55

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 20 tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O yang ditandatangani 10 Maret tahun lalu terdengar sangat menjanjikan perbaikan kualitas udara perkotaan di Indonesia.

Seberapa sungguh-sungguhkan pemerintah mau memulai langkah perbaikan kualitas udara? Itu pertanyaannya.

Peraturan Menteri LHK itu memuat ketentuan tentang pemberlakuan standar emisi Euro 4 di Indonesia secara bertahap. Pemberlakuan itu, jika benar dijalankan, tentulah merupakan langkah maju dalam pembenahan kualitas lingkungan hidup di negeri ini. Sebelumnya, kita masih menggunakan standar emisi Euro 2

Kita tahu, ada 6 standar emisi Eropa yang dikenal.

  • Standar Euro 1 menentukan emisi kendaraan bermesin bensin mengandung Nox (nitrogen oksida) 490 miligram per kilometer (mg/km). Sedangkan kendaraan bermesin diesel mengandung Nox 780 mg/km.
  • Standar Euro 2 menentukan emisi kendaraan bermesin bensin mengandung Nox 250 mg/km. Sedangkan kendaraan bermesin diesel mengandung Nox 730 mg/km
  • Standar Euro 3 menentukan emisi kendaraan bermesin bensin mengandung Nox 150 mg/km. Sedangkan kendaraan bermesin diesel mengandung Nox 500 mg/km
  • Standar Euro 4 menentukan emisi kendaraan bermesin bensin mengandung Nox 80 mg/km. Sedangkan kendaraan bermesin diesel mengandung Nox 250 mg/km
  • Standar Euro 5 menentukan emisi kendaraan bermesin bensin mengandung Nox 60 mg/km. Sedangkan kendaraan bermesin diesel mengandung Nox 180 mg/km
  • Standar Euro 6 menentukan emisi kendaraan bermesin bensin mengandung Nox 60 mg/km. Sedangkan kendaraan bermesin diesel mengandung Nox 80 mg/km

Seperti dikutip dalam siaran pers Maret tahun lalu, M.R. Karliansyah Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK menyatakan, pemberlakuan peraturan untuk standar emisi Euro 4 kendaraan bermotor tipe baru dan yang sedang diproduksi berbahan bakar bensin, akan dimulai 10 Oktober 2018.

“Sedangkan untuk kendaraan bermotor tipe baru dan yang sedang diproduksi berbahan bakar diesel mulai diberlakukan 10 Maret 2021”, kata Karliansyah.

Dibandingkan dengan negara tetangga pun, jika sungguh terlaksana mulai Oktober depan, Indonesia tetap tergolong terlambat memberlakukan standar Euro 4 itu.

Meski begitu, jika sungguh dilaksanakan, pemberlakuan Euro 4 itu akan memberikan cukup lompatan perbaikan kualitas udara di lingkungan kita. Dari standar Euro 2, langsung ke standar Euro 4.

Pertanyaannya, kembali, seberapa sungguh-sungguh pemerintah akan melaksanakannya? Seberapa siap pemerintah memberlakukannya?

Tahun lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah berusaha mempercepat pemberlakuan Euro 4 bagi mesin bensin.

“Euro 4 diharapkan bisa tuntas sebelum Asian Games 2018 karena kita merupakan satu dari sedikit negara yang saat ini masih menerapkan Euro 2. Dengan Euro 4, kami harapkan dapat memiliki lingkungan yang lebih bersih,” kata Airlangga saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show Agustus tahun lalu.

Pernyataan Menteri Airlangga itu justru membuka pertanyaan skeptis, tidakkah Peraturan Menteri LHK tentang standar emisi itu hanya ditujukan untuk menyambut perhelatan olah raga internasional Asian Games belaka?

Yang jelas, dalam surat KLHK yang ditujukan kepada Presiden, Pertamina diwajibkan menyediakan BBM berkualitas Euro 4 -yaitu Pertamax Turbo- di daerah yang menjadi penyangga perhelatan Asian Games dan pertemuan IMF-Bank Dunia. Yaitu Jabodetabek, Palembang, Bali, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi dan Labuan Bajo.

Dengan kewajiban itu, penyaluran dan penjualan BBM Premium akan sangat terbatas di daerah-daerah tersebut. Premium akan langka. Dan itu akan dimulai pada bulan Mei mendatang.

Alasannya? Untuk mempersiapkan kualitas udara yang lebih baik di kota-kota itu. Premium adalah jenis BBM beroktan rendah, yang merendahkan kualitas udara.

Acara internasional yang berlangsung di sejumlah kota di Indonesia itu mensyaratkan kualitas udara yang sesuai dengan standar WHO (World Health Organization, Organisasi Kesehatan Dunia). Menurut pantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta per Januari 2017-Januari 2018, menunjukkan konsentrasi PM2.5 di udara mencapai 35 ug per meter kubik. Padahal standar WHO adalah 25 ug per meter kubik.

“Premium buat Asian Games saja tidak boleh,” kata Vice Presiden Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito.

Setelah kedua acara itu, apakah BBM Premium akan kembali dijual?

Benar bahwa, menurut Peraturan Menteri LHK, pemberlakuan standar emisi Euro 4 baru akan dimulai Oktober nanti. Namun mengapa penyelenggaraan kedua acara tersebut tidak sekalian dijadikan momentum untuk memulainya secara perlahan?

Publik pantas meragukan kesungguhan pemerintah dalam memberlakukan standar emisi Euro 4. Apalagi Direktur Utama Pertamina, Elia Massa Manik mengaku, Pertamina masih mendapat penugasan menyalurkan BBM kadar Research Octane Number (RON) 88 dengan standar Euro 2. Hal itu mengindikasikan bahwa pemerintah belum benar-benar bersiap memberlakukan standar emisi Euro 4.

Pemerintah harus bergegas untuk meyakinkan publik bahwa peraturan yang dibuatnya bukan sekadar lipstik untuk menyambut para tamu di Asian Games 2018 dan pertemuan IMF-Bank Dunia belaka.

BERITAGAR

Leave A Reply

Your email address will not be published.