The news is by your side.

Begini Dampak Perang Dagang AS-China ke Ekonomi Global dan RI

53

Jakarta – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China sedang memanas. Dua negara tersebut terlibat perang dagang, di mana masing-masing membuat penghalang sehingga barang produksi sulit masuk.

Ekonom Bank Permata Joshua Pardede mengatakan, kondisi ini berisiko pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Di tingkat global, perang dagang ini bakal memicu pelemahan ekonomi dunia.

“Dilihat dari perspektif ekonomi global, terjadinya potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok akan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global seiring dengan potensi penurunan volume perdagangan global sebagai konsekuensi dari kebijakan proteksionisme AS dan Tiongkok,” kata dia kepada detikFinance, Jakarta, Senin (26/3/2018).

Dia mengatakan, kondisi tersebut tercermin dari kinerja pasar keuangan global. Arus investasi mengarah ke instrumen yang cenderung aman.

“Dampak dari kekhawatiran pecahnya perang dagang antara AS dan Tiongkok terefleksi dari sentimen global yang cenderung risk aversion sehingga pasar saham global terkoreksi dan mendorong apresiasi aset safe haven seperti yen, emas dan US treasury,” jelasnya.

Bagi Indonesia, genderang perang dagang antara AS dan China akan mengganggu pasar ekspor. Terutama, untuk ekspor baja dan aluminium.

“Berdampak bagi ekspor aluminium ke AS mengingat kontribusi ekspor aluminium ke AS mencapai sekitar 31% dari total ekspor aluminium,” ujar dia.

Kemudian, hal tersebut berpotensi memperlebar defisit dagang antara Indonesia dan China. Sebab, China mencari pasar untuk menyalurkan barang produksinya.

“Dampak dari proteksionisme AS tersebut adalah potensi peningkatan impor baja dan aluminium dari Tiongkok yang berpotensi akan mendorong pelebaran defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok dari tahun lalu yang mencapai defisit US$ 12,7 miliar,” jelasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.