Bacang dan Kicang Santapan Wajib Perayaan Duan Wu Jie

0 5

Singkawang-Harian InHua. Merayakan Festival Phe Cun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Duan Wu Jie, belumlah lengkap jika tidak disertai dengan menyantap Kue Bacang Asin dan Kicang Manis.

端午節 Duan Wu Jie yang jatuh pada tanggal 5, bulan 5 penanggalan kalender lunar atau kalender Imlek adalah salah satu dari 5 Hari Raya Besar yang diperingati oleh orang-orang Tionghoa di seluruh Dunia.

Jika pada perayaan Tahun Baru China, masyarakat Tionghoa merayakannya dengan menyantap Kue Keranjang, Perayaan Zhong Qiu ditandai dengan makan Kue Bulan, dan Perayaan Dong Zhi disimbolkan dengan makan Onde Onde, maka pada Perayaan Duan Wu Jie dicirikan dengan makan Kue Bacang Asin dan Kicang Manis.

Kue Bacang dan Kicang yang dibuat dari Beras Ketan, dibungkus dengan Daun Bambu, dan diikat dengan bentuk limas segitiga atau kerucut ini dinikmati oleh Masyarakat Tionghoa di seluruh Dunia.

Tradisi makan Kue Bacang dan Kicang, tidak hanya menjadi moment istimewa bagi Masyarakat Tionghoa untuk pulang ke Kampung Halaman, berkumpul bersama seluruh anggota Keluarga, tetapi juga membawakan berkah keberuntungan bagi Pedagang Kue.

Salah satu pedagang kuliner Tionghoa yang memperoleh rejeki dari Festival Duan Wu Jie adalah Bong Ji Lang (42), yang setiap hari nya berjualan kue di Pasar Turi.

Ia mengaku, seminggu menjelang Festival Kue Bacang, permintaan kue khas di bulan 5 tersebut mengalami lonjakan drastis. Bahkan pada hari H, perayaan Duan Wu Jie, Jumat, 7 Mei 2019 dirinya kewalahan melayani pembeli Kue Bacang dan Kicang yang mendatangi lapak penjualan kue nya.

“Dalam sehari saya dapat memproduksi 5.000 Kue Bacang Asin dan Kicang Manis. Untuk Kue Bacang, saya menjual seharga Rp 5.000, sedangkan Kue Kicang Manis, perbuahnya saya jual Rp2.000. Saya senang karena perayaan Duan Wu Jie menbawakan berkah bagi saya,” ujar Bong Ji Lang.

“Saya mulai berjualan kue kicang dan bacang sejak kemarin, dan untuk hari ini sudah banyak yang pesan, karena dalam kepercayan Tionghoa, kue kicang yang dihidangkan disaat perayaan Duan Wu Jie ini, merupakan wujud penghormatan kepada Qu Yuan, seorang patriot bangsa Han yang sangat setia kepada negara Chu,” ujarnya.

Bong Ji Lang menyebutkan, bahwa dirinya mulai berjualan dari pukul 03.00 dini hari hingga pukul 10 pagi.

“Saya berjualan kicang dan bacang, hanya setahun sekali menjelang perayaan Duan Wu Jie, karena pada moment seperti ini, jajanan kue ini sangat diminati. Keuntungan yang saya peroleh dari jualan kicang dan bacang ini memang tidak banyak, namun sangat membantu keuangan keluarga dan menyekolahkan anak,” tukasnya.

Ia mengaku, para pembeli Kue Bacang dan Kicang, tidak hanya dari Singkawang saja, namun juga dari luar Singkawang seperti Kabupaten Bengkayang, Sambas, dan Mempawah. Bahkan tidak sedikit yang mendatangi lapak penjualan kue nya, berasal dari Jakarta.

Para pembeli Kue Bacang dan Kicang, diakuinya tidak hanya Masyarakat Tionghoa, tetapi juga ada warga non Tionghoa yang tertarik menikmati kue yang berbentuk kerucut itu.

Ia menjual kue bacang seharga Rp. 5 ribu yang berisi daging cincang, kacang tanah, lobak asin dan jamur kering. Sedangkan kicang manis yang berisi beras ketan dengan gula merah dijual seharga Rp 2 ribu per buah.

Sementara itu, Bong Se Khim (48), yang juga menjual kue Bacang dan Kicang menyebutkan, datangnya perayaan Duan Wu Jie turut memberikan rezeki tersendiri bagi dirinya, dimana hasil penjualan kuliner tersebut cukup membantu perekonomian keluarganya.

“Setiap tahun menjelang perayaan Duan Wu Jie, kue kicang dan bacang yang kami jual selalu habis, sehingga saya bersyukur Duan Wu merupakan berkah bagi saya,” tukasnya.

Tjhin Vivi (31), salah seorang pembeli mengatakan, kue kicang dan bacang yang dijual sejumlah pedagang kaki lima di Pasar Turi dan Pasar Beringin, memiliki kualitas dan cita rasa yang tak kalah dengan yang digelar di pasar swalayan. Soal harga juga relatif terjangkau.

Tjhin Vivi yang beralamat di Jalan P. Natuna, Singkawang Barat ini, Kue kicang memiliki makna filosofis tersendiri. Kicang yang disajikan bersama gula merah ini, merupakan simbol kesejahteraan dan kemakmuran.

“Kue Kicang yang terbuat dari beras ketan dan lengket ini, menggambarkan persaudaraan yang erat dan menyatu. Kue Kicang yang rasanya manis ini, memiliki makna suka cita, kegembiraan, memberikan berkat dan pengharapan yang terbaik dalam hidup,” ungkapnya. (Rio Dharmawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.