The news is by your side.

Asaki: Keramik Produksi Lokal Sulit Bersaing dengan Produksi China

26

Ketua Asosiasi Keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga mengatakan bahwa produksi keramik domestik sulit bersaing dengan produk impor dari China. Menurut Elisa, salah satu pemicunya adalah karena tarif bea masuk diturunkan dari 20% menjadi 5%.

“Tarif bea masuk diturunkan dari 20 persen menjadi 5 persen karena Asean-China Free Trade Area,” katanya kepada detikFinance, Kamis (17/5).

Pemicu lainnya adalah industri keramik domestik harus menghadapi harga gas yang tinggi dan tidak merata.

“Jika di luar Jawa US $ 9 jika pepres US $ 6 sedangkan ASAKI minta US $ 7,5 dolar karena bagian timur dan barat dari selisih harga ketika satu kesatuan, selisih 13% dan ini tidak bagus. Harga gas berbeda, Jawa Timur US $ 7,95 per mmbtu dan di Jawa Barat US $ 9,16 per mmbtu, jika Sumatera US $ 9,6, “jelas Elisa

Elisa menambahkan bahwa situasi ini akhirnya membuat harga keramik impor dari China lebih murah daripada produksi dalam negeri.

“Variasinya sangat murah, China paling murah Rp 70 ribu per meter, ada juga Rp 700 ribu,” tutupnya.

Sebagai informasi, pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Keramik Indonesia (ASAKI) meminta perlindungan pemerintah terhadap pemogokan keramik impor China. Menurut Ketua ASAKI Elisa Sinaga, telah meminta penerapan upaya perlindungan kepada Komisi Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI), sebuah lembaga di bawah Kementerian Perdagangan.

Safeguard adalah kebijakan pemerintah negara pengimpor untuk memulihkan kerugian atau mencegah kerugian akibat invasi impor produk sejenis yang juga diproduksi oleh industri dalam negeri. Salah satu cara untuk meningkatkan bea masuk.

Menurut Elisa pengamanan pada industri keramik perlu dilakukan karena pasokan keramik impor meningkat rata-rata 22% / tahun, dan mayoritas Cina. (detikFinance)

Leave A Reply

Your email address will not be published.