The news is by your side.

Antisipasi Paham Radikal, Walikota Surabaya Kumpulkan Seluruh Takmir Masjid Dan Kepala Sekolah

49

Di tempat yang berbeda dalam sehari sebelum puasa Ramadhan (16/5), Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengumpulkan seluruh takmir masjid dan kepala sekolah untuk mengantisipasi masuknya paham radikal yang memecah belah kerukunan bangsa dan negara. Seluruh pengurus takmir masjid di Surabaya diminta bergandeng tangan dalam membentuk karakter anak-anak muda serta membentengi dari pengaruh buruk masuknya paham radikal.

Tri Rismaharini berpesan apabila menemukan orang yang dirasa aneh dalam hal keagamaan atau tidak pada umumnya segera disampaikan kepada yang berwajib untuk segera ditindaklanjuti, sekaligus sebagai deteksi dini mengantisipasi masuknya paham radikal di kalangan anak muda.

Lebih lanjut Risma mengatakan ajaran Islam tidak mengajarkan menyakiti orang lain dan menghimbau seluruh takmir masjid di Surabaya memegang teguh ajaran Nabi Muhammad bahwa Islam agama Rahmatan Lil’Alamin artinya membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Risma menyampaikan upaya membentengi generasi muda tidak hanya melalui pendidikan formal tapi juga pendidikan keagmaan dengan tetap memegah teguh ideologi Pancasila.

Pemkot melalui Dinas Sosial memiliki program bea siswa bagi pelajar yang hafal Al Qur’an dan membantu kepengurusan BPJS untuk pengurus takmir masjid se-Surabaya.

Sementara itu dalam Rapat Kepala Sekolah SD/MI, SMP/MTs, PKBM, Madin dan Ponpes dihadiri 1600 orang digelar di Convention Hall, Risma memaparkan pengalamannya selama tiga hari menangani kejadian aksi bom bunuh diri yang menewaskan banyak warganya termasuk anak-anak.

Pengumpulan semua kepala sekolah sebagai langkah pencegahan keterlibatan anak-anak dalam aksi radikalisme. Risma meminta para kepala sekolah memberikan instruksi kepada para guru atau walikelas untuk mendeteksi anak-anak yang berbeda. Menurutnya anak-anak pasti tertekan dengan doktrin orang tuanya sehingga sekolah dapat mendeteksi dan membantunya.

Pihak sekolah memantau kondisi anak-anak terutama saat berkomunikasi di luar kelas saat jam istirahat berlangsung. Karena ketika di kelas yang dibicarakan hanya pelajaran, bila istirahat berlangsung banyak informasi kehidupan keseharaian di rumah. Sekolah dapat mengadakan program bersama dengan keluarga siswa.

Dinas Pendidikan Surabaya juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait trauma center untuk melakukan pendampingan para korban anak selama di rumah sakit, di rumah, hingga sekolah bersosialisasi bersama teman-temannya kembali.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yambise mengatakan pemerintah melalui kementriannya akan merawat anak terduga teroris. Pemerintah tidak akan melakukan diskriminasi karena semua Warga Negara Indonesia termasuki anak dan perempuan diperhatikan oleh negara. Anak teroris sebagai korban salah asuh orangtuanya, oleh karenanya kementrian akan fokus pada pendampingan psikologis, rehabilitasi sosial serta berupaya menyembuhkan trauma dengan berkoordinasi bersama Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak. (Av)

Leave A Reply

Your email address will not be published.